Muhasabah Harian

Apakah muhasabah harian itu? sepertinya seringkali mendengar tapi jarang yang mengamalkannya. Termasuk saya, dulu sewaktu masih kuliah sering saya melakukannya, entah mengapa sekarang jarang sekali, bisa jadi dalam setahun bisa dihitung jari (he he .. namanya jadi muhasabah tahunan dong  … ). Bersyukur dalam kajian muslimah sabtu kemaren (10 Nop 2007) mbak erna, yang mendapat giliran untuk menyampaikan materi hari itu, mengingatkan kami akan hal ini. Terima kasih buat mbak erna.

Muhasabah harian, atau kata lain menghisab atau menghitung amal kita yang kita lakukan selama satu hari itu. Biasanya muhasabah ini dilakukan di malam hari ketika menjelang tidur. Pernah saya baca dalam suatu website yang menuliskan wasiat yang pernah diberikan oleh Umar bin Khottob, yaitu :
“Hitung-hitunglah dirimu sendiri sebelum kamu dihitung, dan timbang- timbanglah dirimu terlebih dahulu sebelum kamu ditimbang, dan persiapkanlah untuk menghadapi alam terbuka yang besar (mahsyar).”

Kenapa kita harus menghitung amalan kita? salah satunya agar kita senantiasa instrospeksi diri, sebagaimana seseorang yang menghitung tabungan yang dimiliki, maka tabungan di akhirat adalah lebih penting untuk dihitung agar kita tidak terlena hingga ketika hari itu datang kita ternyata tidak memiliki bekal atau tabungan untuk menemui-Nya.

Ada beberapa pertanyaan yang diberikan oleh mbak erna, yang kalau tidak salah diambil dari salah satu website, yang berisi 37 pertanyaan antara lain :

  1. Apakah anda hari ini membaca Al-Qur’an ?
  2. Apakah anda telah meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka ?
  3. Apakah anda rutin sholat sunah rowatib sebelum dan sesudah sholat wajib ?
  4. Apakah anda hari ini mengingat mati dan kubur ?
  5. Apakah anda selalu membaca dzikir pagi dan sore hari ?

dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Bentuk dan pertanyaan muhasabah sebenarnya lain-lain, ada yang dalam buku harian yang berisi daftar ibadah kita pada hari itu dan bentuk2 lainnya. Dalam kajian tersebut kami juga berdiskusi tentang bagaimana dan seperti apa cara yang kita lakukan untuk menjalankan ibadah yang disebutkan dalam pertanyaan2 tersebut. Seperti pertanyaan nomer 5 tentang dzikir pagi dan sore.

Salah satu dzikir pagi dan sore adalah seperti yang diamalkan oleh imam hasan al-bana dengan membaca beberapa ayat-ayat dalam alqur’an. Dzikir itu dinamakan dzikir al matsurat.

Banyak hikmah ataupun fadhilah ketika membaca dzikir tersebut selain meminta perlindungan kepada Allah dan juga puja puji kepadaNya, beberapa fadhilah yang dapat diambil antara lain :

  1. Bagi yang membaca di pagi hari, Allah akan melindunginya dari syetan sampai sore hari, bagi yang membaca sore hari Allah akan melindunginya dari syetan sampai pagi hari kemudian.
  2. Allah menghilangkan kegundahan dan kegelisahan hatinya
  3. Allah akan memberikan kesehatan badan dan seluruh anggota badan
  4. Allah akan meluaskan rezekinya, termasuk bagi yang memiliki kesempitan rezeki akan mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan rezeki.
  5. selengkapnya bisa dibaca pada link yang saya tuliskan dibawah ini.

Dzikir tersebut bisa di dapati di lik ini : http://kdsb2006. bravehost. com/matsurat/ almatsurat. html 

atau

http://tesur. tripod.com/ matsurat/

Bagi yang ingin nge-print agar mudah membaca tanpa membuka komputer bisa download dari link ini : http://shika. aist-nara. ac.jp/member/ anwar-k/download /matsurat. pdf atau bisa membeli di toko buku di dekat tempat tinggal kita.

Bacaan pagi dan petang ada sedikit perbedaan dan disebutkan dalam website tersebut. Semoga kita bisa melakukan muhasabah harian dan dengan melakukan semoga Allah memudahkan penghisaban kita nanti di hari yang tidak ada keraguan akan kedatangannya. Sudahkah kita bermuhasabah hari ini?

9 Komentar

  1. ario said,

    November 11, 2007 pada 2:47 pm

    Hmmm….

    Harus sering dilakukan bu… karena stamina ruhiyah akan sangat tergantung dengan aktivitas ini.. kebayang susahnya dinegeri orang .. wong jaga iman di negeri sendiri aja susah..😀

    tapi memang hidup menjadi kaum minoritas menjadi kita lebih kuat? benarkah..? wallahu’alam.. Semoga suatu saat sy bisa merasakan teori itu…🙂

    Ganbatte ^_^

  2. November 12, 2007 pada 4:29 am

    Bagaimana cara menghitungnya?
    Bagaimana cara menentukan prioritas amal-amal?

  3. November 12, 2007 pada 11:30 am

    @ M Shodiq Mustika
    Kita tidak dapat menghitungnnya dgn Matematika 1+1+…..= 37
    Hati kitalah yang dapat menghitungnya
    Muhasabah ini adalah pengingat kita setiap harinya

    Manakah yang harus didahulukan ?
    Sebaiknya kita lakukan yang terdekat dengan apa yang kita hadapi sehari-hari
    Amalan2 yang terberat dapat kita lakukan pada hari lainnya

    Wallahu ‘alam bishowab

  4. yuhana said,

    November 12, 2007 pada 2:05 pm

    >ario
    Bener yo, memang muhasabah ini harus sering dilakukan agar bisa menjaga stamina ruhiyah dan menjaga kestabilan amal (bahkan kalau bisa harus bertambah baik) agar tidak merugi. Apalagi iman kita khan naik turun, semoga bisa istiqomah untuk melakukan muhasabah

    >M Shodiq & Nur aini
    Thanks buat jawaban dik iin. Memang benar meski nama lain muhasabah adalah menghisab atau perhitungan, namun caranya tidak seperti hitungan matematika🙂.

    Menurut pengetahuan saya yang awam, muhasabah bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya
    1. beli buku muhasabah yang berisi daftar aktifitas / ibadah yang harus kita lakukan sehari-hari, selanjutnya setiap sebelum tidur kita buat check list ibadah apa saja yang telah kita lakukan dalam hari itu kemudian dilakukan instropeksi/evaluasi apa yang kurang, apakah lebih baik dari hari kemaren, bagaimana cara meningkatkannya, dll
    2. Coba cari daftar pertanyaan itu di internet, jika sudah ketemu gabungkan beberapa pertanyaan yang kita temui dan lakukan hal seperti nomer satu setiap harinya
    3. Buat daftar aktifitas/ibadah sebelum tidur untuk kegiatan besuknya, kemudian evaluasi sebelum tidur.

    Intinya menurut saya adalah untuk menjaga amalan kita agar tidak terlena dengan kesibukan sehari2. Dan yang penting adalah kita harus menjauhkan diri dari rasa sombong atau riya jika seluruh/sebagian besar amalan ibadah telah kita lakukan karena hal ini justru akan menghanguskan ibadah kita, apalagi merasa lebih baik dari orang lain, karena sebenarnya tingkat ketaqwaan seseorang hanya Allah-lah yang tahu. Wallahu ‘alam bishowab, semoga bermanfaat.

  5. nursamsiah said,

    November 16, 2007 pada 12:54 pm

    assalamu Alaikum wr. Wb.
    Alhamdulillah hari ini aku sudah dapat pencerahan tentang muhasabah
    terimaksih rekan ari, m. shodik, nur & yuhana.

    iya pertanyaan yang sama pernah terlontar dari teman saya mengapa kita harus muhasabah (menghitun20 amalan kita bukannya itu hanya allah yang maha tahu?
    sampe hari ini saya belum menjawabnya karena belum ketemu jawaban yang pas dan dapat di pertanggung jawabkan

    mungkin aja ada yang dapat menjelaskan lebih jauh lagi apa kebaikann dari muhasabah, bagaimana melakukan dengan benar dan ada gak dasar hukumnya sehingga tidak terkesan bid’ah atau mungkin maksudnya bertentangan dengan ajaran Islam
    terima kasi wassalam

  6. yessi said,

    November 17, 2007 pada 3:46 am

    Alangkah indahnya ya mbak kalau hari2 kita selalu kita muhasabah-i.
    Mungkin kita bisa mulai dari yg sedikit dulu, maksudnya g sampai 37 pertanyaan, pelan2 kita bisa kontinu. amin

  7. yuhana said,

    November 17, 2007 pada 8:37 pm

    >Nursamsiah
    Menurut saya, di dalam muhasabah kita tidak menghitung pahala akan apa yang kita lakukan karena hanya Allah yang tahu. Dalam muhasabah, kita cenderung menghitung apa yang telah kita lakukan dan apa yang belum serta terkadang kualitas amalan kita insya Allah kita bisa merasakan. Tentang alasan mengapa muhasabah dilakukan salah satunya adalah bahwa kita ingin hari ini akan lebih baik dari hari kemaren dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Bagaimana hari ini bisa dikatakan lebih baik dari hari kemaren salah satunya bisa dilihat dari hasil muhasabah yang kita lakukan, sehingga kita bisa senantiasa melakukan perbaikan dan peningkatan. Ada yang punya pendapat lain?
    >Yessi
    Iya mbak, sepakat

  8. Adit said,

    Desember 11, 2007 pada 10:16 pm

    Assalamu’alaikum . .
    salam kenal ya mbak.. saya tau mbak dari Ario.
    Semoga kita termasuk orang2 yg menjaga Silaturahmi..

    Muhasabah.. dulu semasa SMA saya pernah melakukannya bersama teman2 dari Rohis. Sekarang saya sudah jadi Mahasiswa salah satu Institut di Bandung jurusan Arsitektur. Semenjak itu saya sudah tidak pernah lagi melakukan muhasabah. Padahal saya sangat ingin sekali.. karena dgn muhasabah kita bisa ngerasa sangat dekat dengannya.. mohon saran dari mbak . .
    Oiya, dulu saya sering Muhasabah di iringi alunan musik Instrumentalia dari Haddad Alwi “Do’a Aku” . . . apakah itu di perbolehkan??

    Tafakur sama Muhasabah beda tidak??

    >yuhana:
    Wa’alaikum salam wr wb
    Aamien, Salam kenal juga ya

    Kalau dilihat dari segi bahasa, muhasabah artinya menghitung atau perhitungan, sementara tafakur artinya berpikir. Jadi menurut saya muhasabah dan tafakur berbeda meskipun pada akhirnya tujuannya adalah mendekatkan diri dan menjaga kedekatan kepada Allah.
    Muhasabah lebih pada bagaimana mengevaluasi amalan apa yang kita kerjakan selama hari itu agar kita tidak termasuk orang-orang yang merugi seperti yang disebutkan dalam QS al-‘Asr. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan supaya menetapi kesabaran” Dengan bermuhasabah kita akan tahu apa saja amalan yang telah kita lakukan pada hari itu dan bagaimana mempertahankannya atau meningkatkannya jika amalan itu baik dan bagaimana menghindarinya jika amalan itu tidak baik.
    Sementara tafakur adalah berpikir, untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan merenung atau mengkaji ayat-ayat Allah baik ayat yang tertulis seperti Al-Qur’an ataupun ayat ciptaan Allah yang ada di alam ini. Bisa jadi dengan mendengarkan taujih/nasehat atau instrumen seperti yang Adit sebutkan. Jadi mungkin apa yang Adit lakukan itu kalau tidak salah bertafakur, bukan bermuhasabah.

  9. Agustus 18, 2010 pada 8:04 pm

    Assalamu’alaikum..Iya, muhasabah memang sangat perlu..!! apalagi bagi para aktivis dakwah seperti anda..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: