Kampanye Dukungan untuk Menolak Pekan Kondom Nasional 2007

Catatan saya kali ini sedikit sensitif karena membahas masalah yang sensitif juga. Berawal dari email yang saya dapatkan tentang kampanye penolakan pekan kondom nasional, saya pergi ke website badan penanggulangan Aids http://www.aidsindonesia.or.id . Dari situ saya dapatkan informasi jelas tentang akan adanya Pekan Kondom Nasional 2007 yang diadakan atas kerjasama badan penanggulangan aids dan Badan Koordinasai Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan yayasan DKT Indonesia.

Pekan yang akan dilaksanakan tanggal 1-8 Desember 2007 ini bertujuan untuk mengkampanyekan penggunaan kondom untuk pencegahan penularan virus penyakit HIV Aids. Kalau kita amati secara sekilas program ini tujuannya adalah baik, namun ketika kita lihat lebih jauh ternyata dampak negatif yang ditimbukannya akan semakin besar dan hanya ada satu dampak positif yakni bagi perusahaan kondom bahwa produknya akan laku keras. Kegiatan yang dilakukan dalam pekan ini adalah : pembagian kondom gratis dilengkapi dengan materi edukasi, pelatihan, demonstrasi cara pemakaian kondom, konser musik, talkshow, dan apresiasi terhadap sejumlah tokoh yang menunjukkan kepedulian dan komitmen yang tinggi terhadap permasalahan HIV/AIDS di Indonesia. Sebagian besar isi dari tulisan ini saya ambil dari kampanye yang beredar yang saya dapatkan melalui email.

Jika kampanye penggunaan kondom ini berhasil dan membuat masyarakat percaya bahwa mereka akan aman jika menggunakannya, maka akan ada dampak negatif yang lebih besar antara lain :

  1. Pemerintah (dalam hal ini diwakili BKKBN) dianggap mendukung adanya Free Sex dan ini akan mengancam terutama generasi muda kita
  2. Beberapa bukti ilmiah yang tertulis dibawah membuktikan bahwa ternyata pemakain kondom adalah tidak aman untuk pencegahan penularan virus HIV Aids karena tujuan utama pembuatannya adalah sebagai alat kontrasepsi, lalu cara apa yang aman untuk mencegah penularan HIV aids adalah dengan berperilaku hidup sehat sesuai yang dituntunkan oleh Agama. Jadi pekan ini menurut saya tidak tepat jika dimaksudkan untuk pencegahan penularan Aids, yang tepat adalah untuk marketing/promosi kondom. Kenapa tidak kembali ke anjuran dan tuntunan agama jika ingin selamat dari penularan ini?

BUKTI ILMIAH
Kondom Tidak 100% Aman

  1. Penelitian yang dilakukan oleh Lytle, et. al. (1992) dari Division of Life Sciences, Rockville, Maryland, USA, membuktikan bahwa penetrasi kondom oleh partikel sekecil virus HIV/AIDS dapat terdeteksi.
  2. Penelitian yang dilakukan oleh Carey, et. al. (1992) dari Division of Pshysical Sciences, Rockville, Maryland, USA, menemukan kenyataan bahwa virus HIV dapat menembus kondom. Kondom yang beredar di pasaran 30% bocor.
  3. Direktur Jenderal WHO, Hiroshi Nakajima (1993) menyatakan bahwa efektivitas kondom diragukan.
  4. Pernyataan J. Mann (1995) dari Harvard AIDS Institute yang menyatakan bahwa tingkat keamanan kondom (bebas kebocoran) hanya 70%.
  5. Dalam konferensi AIDS Asia Pacific di Chiang Mai, Thailand (1995) dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pori- pori kondom berdiameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang pori-pori tersebut mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.
  6. Laporan dari majalah Costumer Reports (1995) menyatakan bahwa pemeriksaan dengan menggunakan elektron mikroskop dapat dilihat pori-pori kondom yang 10 kali lebih besar dari virus HIV
  7. Pernyataan dari M. Potts (1995) Presiden Family Health International, salah satu pencipta kondom mengakui antara lain bahwa : “Kami tidak dapat memberitahukan kepada khalayak ramai sejauh mana kondom dapat memberikan perlindungan pada seseorang. Sebab, menyuruh mereka yang telah masuk ke dalam kehidupan yang memiliki resiko tinggi (seks bebas dan pelacuran) ini untuk memakai kondom, sama saja artinya dengan menyuruh orang yang mabuk memasang sabuk ke lehernya”
  8. Pernyataan dari V. Cline (1995), Profesor psikologi dari Unversitas Utah, Amerika Serikat, menegaskan bahwa memberi kepercayaan kepada remaja atas keselamatan berhubungan seksual dengan menggunakan kondom adalah sangat keliru. Jika para remaja percaya bahwa dengan kondom mereka aman dari HIV/AIDS atau penyakit kelamin lainnya, berarti mereka telah tersesatkan
  9. Pernyataan pakar AIDS, R. Smith (1995), setelah bertahun- tahun mengikuti ancaman AIDS dan penggunaan kondom, mengecam mereka yang telah menyebarkan “safe sex” dengan cara menggunakan kondom sebagai “sama saja dengan mengundang kematian”. Selanjutnya beliau mengetengahkan pendapat agar reiko penularan/penyebara n HIV/AIDS diberantas dengan cara menghindari hubungan seksual di luar nikah
  10. Di Indonesia pada tahun 1996 yang lalu kondom yang diimport dari Hongkong ditarik dari peredaran karena 50% bocor.
  11. Tingkat keamanan kondom (bebas kebocoran) di negara-negara berkembang rata-rata hanya 70%. Kondom terbuat dari latex yang peka terhadap sinar (matahari dan lampu), oksigen dan kelembaban. Umur pakai kondom hanya 5 tahun. Dikhawatirkan, banyak kondom yang diimport dari luar negeri sudah melewati batas waktunya. Penyimpanan yang tidak hati-hati dapat menyebabkan kondom berjamur, robek bahkan copot sama sekali. Kalau diamati, penyimpanan kondom di apotik- apotik yang sering diletakkan di bawah lampu neon. Keadaan bertambah gawat kalau penyimpanan di gudangnya kurang hati-hati atau kurang teliti misalnya diletakkan di lantai.
  12. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Biran Affandi (2000) menyatakan bahwa tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Berencana mencapai 20%. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan dati Prof. Dr. Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana dan bukan untuk mencegah virus HIV/AIDS. Kondom adalah untuk mencegah penetrasi sperma, bukan untuk mencegah penetrasi virus HIV/AIDS.
  13. Gereja Katholik (Vatikan) menyerukan kepada masyarakat bahwa kondom tidak melindungi seseorang dari ketularan virus HIV. Selanjutnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Kim Barnes (2003) dari BBC London, menyatakan bahwa cara yang terbaik agar terhindar dari virus HIV/AIDS adalah abstinentia, yaitu tidak mengadakan hubungan seksual di luar nikah.
  14. Alfonso Lopez Trujillo (2003) seorang cardinal senior dari Vatikan menyatakan bahwa virus HIV dapat menembus dinding kondom. Kecilnya virus HIV 1/450 lebih kecil dari sperma. Sperma saja masih bisa menembus lapisan kondom, apalagi virus HIV.
  15. Gordon Wambi (2003) seorang aktivis AIDS menyatakan ketidaksetujuannya pemakaian kondom. Hal ini sesuai dengan Vatican’s Pontifical Council for Family yang menyerukan kepada pemerintah agartidak menganjurkan pemakaian kondom kepada rakyatnya; kampanye kondom sama saja resikonya dengan kampanye rokok, bahayanya sama.
  16. Sejak kondom mudah diperoleh, penyebaran HIV/AIDS menjadi melesat dengan pesat, disimpulkan bahwa kondom membantu penyebaran HIV/AIDS, demikian dikemukakan oleh Archbishop of Nairobi (RaphaelNdingi Nzeki, 2003).
  17. Selanjutnya gereja Katholik menganjurkan kepada salah satu pasangan suami-istri yang terinfeksi untuk tidak menggunakan kondom, sebab virus HIV bisa menembusnya dan menulari pasangannya yang lain. Dewasa ini dunia (2003) sedang menghadapi global pandemic HIV/AIDS yang telah mewaskan lebih dari 20 juta orang dan menginfeksi 42 juta.
  18. Dari Washington diberitakan oleh Associated Press (AP) yang dikutip oleh Koran Tempo (12 November 2005), yang menyebutkan ada peringatan dari Food and Drug Administrations (FDA) perihal peringatan pada kemasan kondom. FDA mengharapkan dalam kemasan kondom tertera peringatan bahwa kondom hanya sedikit efektif mencegah penyebaran penyakit seksual menular seperti herpes genitalis, virus papilloma, dan virus HIV/AIDS. Kondom adalah untuk mencegah penetrasi sperma, bukan untuk mencegah penetrasi virus HIV/AIDS.
  19. Kondom terbuat dari lateks ( karet ). Bahan ini merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Di samping itu, karena proses pembuatan, maka kondom juga memiliki lubang cacat mikroskopis atau ” pinholes ” (Prof.Dr.dr.H. Dadang Hawari )

Dengan ini saya mendukung langkah
– ASA ( Aliansi Selamatkan Anak ) Indonesia
– Forum Indonesia Muda ( FIM )
– Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se Indonesia
– Lembaga Manajemen Pendidikan Indonesia ( LMPI )
– Gerakan Jangan Bugil Depan Kamera ( JBDK )
– Masyarakat Tolak Pornografi ( MTP )
– Komite Indonesia Pemberantasan Pornografi &Pornoaksi ( KIP3 )

ALIANSI
PEMUDA SELAMATKAN BANGSA
DENGAN TEGAS MENOLAK KONDOMISASI

Karena :
1. Kondom terbukti secara ilmiah tidak efektif mencegah HIV AIDS
2. Provokasi menuju gaya hidup ” Free Sex ”
3. Bertentangan dengan nilai-nilai luhur Bangsa dan Pancasila
4. Penistaan terhadap hak azazi manusia khususnya kaum muda
5. Menyinggung dan menciderai rasa KEBERAGAMAAN bangsa Indonesia
6. Pembodohan, kebohongan dan kesesatan NYATA
7. Jalan pintas untuk kepentingan segelintir orang dengan mengorbankan masa depan BANGSA dan kepentingan rakyat banyak

Beri kami PENDIDIKAN BERMUTU
Bukan KONDOM
Kami bukan generasi MAKSIAT

PEDULI AIDS ?
TOLAK SEKS BEBAS !!!

Sekretariat
Gedung Ganeca Blok 1 lt dasar
Jl Raya Pasar Minggu no 234
Tlp 021 68552573 – Fax 021 797 2294 Indonesia
Website : http://asa-Indonesia.com
Youthnotoporn. com

Bagaimana dengan Anda ?

43 Komentar

  1. Yessi Mulyani said,

    November 29, 2007 pada 2:21 pm

    setuju sekali mbak, ayok kita tentang kondomisasi. Sebagian besar rakyat membutuhkan kepedulian dan perhatian yang bsar terhadap pendidikan untuk mencegah penyakit HIV, AIDS dsbnya. Bukan menyokong pemakaian kondom yang justru mempermudah rakyat melakukan kemaksiatan.

    >yuhana: yang saya tentang adalah kampanye kondom di tempat umum dan skala nasional yang artinya sampai anak kecilpun kemungkinan besar akan tahu, dan itu akan membuat mereka penasaran hingga bahaya yang lebih besar lagi yang saya takutkan adanya keinginan untuk mencoba jikalau mereka berpikir itu aman. Itulah asumsi yang saya maksud ini mendukung freesex. Tapi semoga moralitas bangsa kita tidak seperti itu🙂
    Sepakat bahwa pendidikan yang lebih baik adalah salah satu sarana yang juga harus dipikirkan.

  2. galih said,

    November 29, 2007 pada 2:26 pm

    Anjuran untuk kembali ke tuntunan agama? Efektifkah? Bisa jadi anjuran ini hanya sebagai angin lalu karena sebenarnya kita sedang mengalami krisis kepercayaan agama. Agama hanya dianggap sebagai baju, ritual untuk menghindari ancaman neraka, identitas, kendaraan politik, alat untuk mencari dukungan massa, tapi bukan sebagai bagian hidup sehari-hari.

    >yuhana: yup, memang menurut saya jika agama tidak dijadikan sebagai bagian hidup sehari2 tapi hanya dijadikan “kendaraan” (mengutip istilah galih), saya yakin gembar-gembor dengan agama juga tidak efektif, jadi contoh dan panutan dari para agamawan (bukan hanya ceramah) itu sangat diperlukan oleh bangsa kita yang mulai krisis percaya diri terhadap agamanya ini😀

  3. galih said,

    November 29, 2007 pada 2:29 pm

    Untuk tuntutannya (Pendidikan Bermutu): saya setuju🙂

    >yuhana: yups

  4. galih said,

    November 29, 2007 pada 2:30 pm

    HATTRICK!!! (sekalian, nanggung)😛

    >yuhana: HATTRICK (melakukan suatu hal 3 kali :D), gpp kok lih silahkan aja.

  5. manusiasuper said,

    November 29, 2007 pada 7:48 pm

    *Liat ke atas*

    serius gini malah hetrik…

    Saya dukung penolakannya bu..!

    >yuhana: thanks🙂

  6. Pyrrho said,

    November 29, 2007 pada 9:30 pm

    Pemerintah (dalam hal ini diwakili BKKBN) dianggap mendukung adanya Free Sex dan ini akan mengancam terutama generasi muda kita

    Ini fallacy yang sering saya temui dalam penolakan kondom. Seakan-akan kalau melegalkan dan mendukung kondom maka implikasinya juga adalah mendukung free sex. Itu 2 kutub yang berbeda, tidak punya kaitan, dan 2 hal yang tidak berhubungan.

    Mendukung kondom berarti mendukung free sex. Dimana hubungannya ?🙂

    >yuhana: lihat tanggapan saya di komen nomer 1🙂, sebagai pengalaman nyata hidup di negara yang bebas (Taiwan, termasuk remajanya yang bebas melakukan freesex), ketika teman saya bertanya pada temannya (anak lokal) apakah ia tidak takut hamil atau tertular penyakit dengan melakukan hal itu, jawabannya adalah “khan ada kondom”, nah lho….. Ini mencerminkan bahwa remaja di Taiwan sadar bahwa kondom aman dipakai untuk mencegah hal itu sehingga tidak ada lagi yang mereka takutkan untuk melakukan hal yang dilarang oleh agama (karena sebagian besar mereka tidak percaya akan agama) Akankah remaja Indonesia seperti mereka ? semoga tidak

    Apakah agama tepat untuk kampanye anti AIDS ? Bisa jadi. Tapi penelitian psikologi sosial remaja yang pernah saya baca mengatakan kalau para pelaku sex tidak aman usia dini itu mempunyai pemahaman agama yang cukup kuat. Penelitian2 psikologi sosial jg menegaskan hal itu. Tidak ada korelasi antara perilaku sex dengan pemahaman agama.

    Hal ini bisa ditemukan di Indonesia juga. Coba baca penelitian2 Prof. Sarlito W. Sarwono (FPsi UI) tentang perilaku sexual remaja dan tingkat religiusitasnya.

    Dan yang perlu diingat, AIDS bukan hanya disebabkan oleh free sex. Berbagai cara bisa menjadi cara penularan AIDS. Sampai sejauh ini, meskipun ada cacat-cacat, pemakaian kondom di lokalisasi pelacuran (yg pernah saya teliti) justru menurunkan tingkat penularan dan penderita penyakit menular sexual.

    Kalau kita bicara agama, memang normatif. Dan itu memang tujuan akhirnya. Tetapi tindakan preventif awal bagi mereka yang rentan terkena dampak penyakit sexual menular seperti AIDS adalah dengan menggunakan alat-alat yang mampu meminimalkan dampak itu [ dan kondom adalah salah satunya] dan, sekali lagi menurut saya, bukan dengan berkotbah soal agama bagi mereka.

    >yuhana: Memang penularan AIDS bisa melalui banyak jalan, sepakat. Mengenai pemahaman agama yang kuat apakah sama dengan religius? menurut saya arti religious yang dimaksud seperti di kamus adalah taat beragama (menjalankan agama, tidak hanya sekedar paham saja). Jadi tidak sepakat jika seseorang yang pemahaman agamanya tinggi disebut religious, tergantung apakah dia menjalankan apa yang dipahaminya atau tidak

  7. bakazero said,

    November 29, 2007 pada 9:30 pm

    iya nih…
    kok berantas AIDS pake kondom…
    berarti me”LEGAL”kan seks bebas…

  8. adit said,

    November 29, 2007 pada 10:04 pm

    Kalau kondom sama agama tidak bisa berjalan berdampingan kah?

    >yuhana: saya kira bisa, namun kembali lagi kampanye kondom nasional yang saya soroti disini

  9. November 30, 2007 pada 4:25 am

    Paham agama = religius?
    Saya baru tahu. Tampaknya saya perlu banyak belajar nih.

  10. Dee said,

    November 30, 2007 pada 9:33 am

    saya anti free sex, tapi saya kadangkala juga butuh kondom🙂

    >yuhana: he he he

  11. ichsan231 said,

    November 30, 2007 pada 10:41 am

    wah pusing aku kalau kondom digunakan oleh yang belum nikah?
    wah wah payah

  12. nana said,

    November 30, 2007 pada 1:02 pm

    kenapa harus menolak kondom? kenapa musti nyalahin kondom?

    rasanya dangkal sekali orang2 yang berpikiran bahwa mengkampanyekan kondom sebagai alat pencegahan AIDS sebagai penyebab rusaknya moral bangsa ato provokator sex bebas di negeri ini.

    sampai edukasi tentang penyakit ini belum merata, kita masih perlu memasukkan kondom sebagai kampanye pencegahan HIV AIDS. lagian pada lupa ya klo penularan HIV AIDS ga cuma lewat SEX tapi juga darah dan Asi.

    Empati dikit dunks, kesian kan mereka yang terlanjur tertular, dan memiliki pasangan yang negatif dan menikah lalu krna ke-egoisannya ingin menikmati seks lalu menularkan pada pasangannya yang tadinya tidak terinfeksi.

    lagian ga usah takut, kita kan juga punya rumus selain kondom sebagai pencegahan HIV/Aids:

    (1) Abstinence, puasa seks, tidak melakukan hubungan seksual jika belum mempunyai pasangan tetap / belum menikah
    (2) Be Faithful, setia pada pasangan, melakukan hubungan seksual hanya pada suami atau istri kita masing-masing,
    (3) Condom, jika tidak bisa ‘puasa seks’ atau ‘setia pada pasangan’ dengan berbagai alasan pembenarannya masing-masing, gunakan kondom saat melakukan hubungan seksual,
    (4) no Drugs, jangan mengkonsumsi narkoba terutama narkoba suntik dengan jarum suntik yang tidak steril dan
    (5) Equipment sterilization, peralatan medis (dan peralatan lain yang kontak dengan darah dan cairan tubuh manusia lainnya seperti pisau, jarum, silet dll.) harus digunakan dalam keadaan steril.

    masalah HIV yang lebih kecil dari pada pori2 kondom…. makanya pake yang mereknya mumpuni… jangan yang murahan…hehehehehe

    >yuhana: sepakat dengan solusi ABCDE yang mbak nana tuliskan, tapi C ini harus dibarengi dengan pendidikan moral di segala segmen agar tidak terjadi masalah (meminimalisasi) yang harus diatasi dengan C, termasuk dibarengi dengan contoh perilaku moral yang baik dari para pemimpin kita, bener nggak?

  13. dobelden said,

    November 30, 2007 pada 2:45 pm

    wah atm kondom bakal laku lagi nih

    aku kebagian gak ya…😀

    *ngacirrr

  14. November 30, 2007 pada 2:56 pm

    ah, semakin aneh saja negeri ini.
    ditengah gencarnya upaya ‘pembasmian’ aliran sesat, malah akan diadakan acara pekan kondom.
    kekna aneh aja gitu, mbak.
    ‘mereka’ memang aneh.
    saya jelas menolak, lah.
    tapi apa daya, lha wong acaranya mulai besok.
    *sigh*

    >yuhana: bener mas, saya juga sepakat dengan alasan yang anda tuliskan di blog anda.

  15. November 30, 2007 pada 3:02 pm

    @mbak yang komen di no. 12.
    kenalan dulu, dong..😀
    hm.. sebaliknya, menurut saya nih ya, justru orang2 yang punya gagasan utk kampanye anti AIDS lewat penggunaan komdom inilah yang berpikiran dangkal. yah, bukan bermaksud apa-apa, tapi kesannya mereka itu cuma melihat ‘ujungnya’.
    kalo dianalogikan ke rumah yang udah mau hancur, mereka lebih konsentrasi ke gentengnya daripada pondasinya sendiri.
    menurut saya, jika memang orang2 yang punya gagasan kampanye kondom itu berpikir secara komprehensif dan memikirkan hal-hal yang fundamental, harusnya mereka lebih fokus ke ‘perbaikan moral’. khususnya, generasi muda bangsa ini. agar tidak terjerumus ke MEMAKAI KONDOM dan PAKE NARKOBA.
    itu menurut saya, lho.:mrgreen:

  16. nana said,

    November 30, 2007 pada 4:10 pm

    hehe.. salam kenal mas no 15.
    Buat saya siy, mo kampanye macam apa aja ayuuk… cuma memang untuk dinegara kita tercinta ini, kampanye kondom memang rasanya sensitif sekali. Kalo saya sendiri milih2 dulu target kampanyenya siapa, kalo remaja smp-sma, saya cenderung pilih rumus A D (Abstinence, no Drugs injection user), kalo kampanyenya dilokalisasi, yang ini agak sulit kalo kita pake rumus ‘perbaikan moral’ masalahnya ini kan mata pencaharian mereka;p, klo suruh berhenti jadi PSK, kita butuh perjuangan lebih keras lagi. sedangkan permintaaan pasar meningkat, dan wadah yang menaungi para PSK untuk Tobat pun masih sedikit, sementara itu mereka sangat berpotensi menyebarkan HIV ke pelanggan dan sipelanggan menularkan yg lain…yang lain lagi. Belum lagi yang prakteknya terselubung…or should i say… lebih ekslusif, kita ga bisa nunggu sampe moral mereka balik sementara mereka tetap melakukan pekerjaanya, mau ga mau ya kampanye kondom.

    selama praktek prostitusi ini merajarela, kondom harus tetap masuk dalam kampanye ini. (menurut saya lo)

    maaf, bukan saya mendukung praktek pelacuran. (no hard feeling kan):p
    Insya Allah kalo kampanye yang tepat pada target yang tepat, penyebaran virus ini bisa dihentikan. it takes time lah.

    Luv semua,

    >yuhana: saya dah baca blog mbak nana, salam kenal ya

  17. November 30, 2007 pada 4:28 pm

    […] lewat. Nah, itu fakta yang sejak lama sudah gw tau. Kalo mau tau lebih jauh, lihat saja di blog mbak Yuhana. Di sini diungkapkan secara lebih jelas bahwa kondom tidak 100% […]

  18. November 30, 2007 pada 4:46 pm

    @mbak nana
    nah, kalo kampanyenya ditujukan untuk segmen2 yang bergesekan langsung dengan dunia yang-mengharuskan-penggunaan-kondom, saya setuju, mbak.
    tapi kalo kek gini. di tempat umum. salah2 bisa menjatuhkan harga diri bangsa lho.
    pastinya kita gak mau dicap westoxified, kan? sok-sokan buka2an di publik soal kondom walaupun sebenarnya belum terlalu diperlukan. kecuali penyebaran virusnya udah gawat seperti di afrika sana.😀

  19. Yessi Mulyani said,

    November 30, 2007 pada 6:43 pm

    salam kenal buat Mas Moris and Mbak Nana,

    nah Mbak Nana dah jelas kesimpulannya kan kampanye yg mo diadakan segmennya umum so itu yg jelas2 membuat hati kita membrontak karena kita memikirkan efek samping yang akan ditimbulkannya. Dan ini adalah bentuk peduli kita terhadap masa depan bangsa.

  20. nana said,

    November 30, 2007 pada 6:49 pm

    Kalo dilihat dari perilaku orang2 disekitar lingkungan saya yang bebas (banget)… dan apabila itu ternyata terjadi ditempat lain juga, saya rasa, ga lama lagi kita bakalan kayak Afrika😀

  21. Yessi Mulyani said,

    November 30, 2007 pada 6:55 pm

    betul mbak, itu ga mustahil negara kita bisa seperti itu, kalau semua kita tidak peduli satu sama lain, hidup nafsi-nafsi.
    “Demi waktu sesungguhnya Manusia itu dalam kerugian kecuali orang-orang yang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran”

  22. nana said,

    November 30, 2007 pada 7:12 pm

    mbak yessy, mas no 18😀. thank you atas peneranganya….

    sebenernya td agak miss komunikasi (Mahap :-D) saya pikir tadi semua menolak kampanye apapun yang menyertakan kondom, sementara menurut saya itu masih sangat perlu. tapi memang rasanya ‘perayaan kondom’ besok terlalu berlebihan. Semoga ga melulu soal pencegahan dan hingar bingar musik, tapi juga care dengan para ODHA yang sampai saat ini hidup dengan stigma buruk HIV/Aids. Saya yakin, masih banyak yang tidak mau minum dengan gelas yang sama dari seorang ODHA.

    anyway, pengen juga tuh kerja di perusahaan kondom (heee)

  23. Yessi Mulyani said,

    November 30, 2007 pada 9:01 pm

    mengapa mis komunikasi (ga nyambung) sering terjadi di negara kita, sehingga membuat rakyat menjadi semakin bodoh, apalagi mis komunikasi jelas2 tidak mungkin terjadi apabila setiap segala sesuatu telah dianalisa dengan baik apalagi itu dianalisa oleh para pejabat yang notabene berpendidikan,
    baca kutipan dibawah ini

    “Salah satu tujuan dari kampanye ini adalah agar kondom tidak dimusuhi. Kondom hanyalah alat, justru perbuatan yang beresiko yang boleh dimusuhi,” kata Dr Nafsiah Mboi, Sekretaris KPA Nasional. Senada dengan Nafsiah, Ketua Umum Dewan Mesjid Indonesia, Dr.H.Tarmizi Taher mengatakan bahwa kampanye penggunaan kondom bertujuan agar setiap orang melindungi diri dari penyakit. “Kampenye ini bukan untuk mengajak orang melacurkan diri, tapi untuk melindungi diri,” ujarnya.

    Ada beberapa hal yang menarik dari kutipan di atas:
    1. Sejak kapan masyarakat memusuhi kondom sehingga harus dikampekan segala. (jelas Jaka sembung naik ojek, Ngak jambung Je).
    2. Beresiko penularan AIDS iya tapi kan sudah jelas kalau akarnya adalah pelacuran dan seks bebas. Kalau kita terjauh dari perbuaatan itu mana mungkin hinggap itu penyakit (emang penyakit flu biasa, dapat menular lewat udara dan kapan saja).
    3. Ysh Bpk Dr. H. Tarmizi Taher, setahu saya seorang dokter TNI AL dan juga paham agama serta orang minang yang cukup saya banggakan. Tapi … Lha kok, ke depan harus hati2 Pak berkomentar, niat baik yang tidak disertai pemahaman yang menyeluruh mudah untuk di politisir untuk kepentingan2 kelompok anti-kebaikan (baca: pro maksiat).

    Ataukah nafsu tuk kepentingan pribadilah sehingga komentar atau jawaban yang diberikan semakin membodohi rakyat.

  24. galih said,

    November 30, 2007 pada 9:16 pm

    Hehehe… bu yuhana sengaja nggak ngangkat topik ini untuk memancing komentar?🙂 Khas blog indonesia, postinglah topik yang kontroversial untuk menuai banyak komentar.

    salam

    >yuhana:
    Galih …… jujur tujuan saya nulis diblog ini adalah untuk menuangkan isi hati saya, dukungan pada penolakan kampanye kondom yang dilakukan ditempat umum (yang mungkin bisa jadi malah salah sasaran) dan persepsi pribadi saya dengan adanya kampanye itu. Kalau toh ternyata mengundang kontroversi maka itu bukan maksud saya. Thanks buat semuanya, saya yakin masing2 memiliki alasan pribadi dan analisa tersendiri akan dukungan atau penolakan. Paling tidak kita masih peduli dengan tanah air kita tercinta.

    Mengenai masalah agama, menurut saya janganlah agama yang dimasalahkan tapi penganutnya yang mungkin telah banyak meninggalkan sebagian (sedikit atau banyak) atau bahkan melakukan penyimpangan didalamnya. Sejarah membuktikan bahwa dengan kedatangan Islam pada jaman nabi Muhammad SAW, masyarakat yang pada saat itu penuh dengan kebobrokan moral bisa disembuhkan dan mengalami masa kejayaan dan keemasan berkat tuntunan yang Maha Tahu melalui utusan dan kitabNya.

    Saya juga tidak banyak tahu tentang agama, namun berusaha untuk sedikit demi sedikit mencoba belajar dan memahami karena masih percaya pada panduan Yang Maha Tahu. Berharap semoga senantiasa diberikan jalan keselamatan.

  25. Yessi Mulyani said,

    November 30, 2007 pada 9:43 pm

    Salam kenal buat Mas Galih

    Buat Mas Galih kita jangan apatis, jangan mudah berputuasa dengan kondisi negara kita yg ngurus angkotnya aja gak bisa.
    Mari kita optimis bahwa negara kita masih punya generasi2 penerus yang baik akhlaknya, yang masih menjaga prilaku2 freesex, tidak seperti negara Eropa, Barat dan sebagian Asia sehingga saat ini negara-negara tsb semakin kehabisan generasi karena ga mo nikah dan enak sex diluar nikah.

    Mari kita mulai dari diri kita masing-masing tuk memperbaiki tidak mudah tergoda dan mampu memfilter diri dari hal-hal yang merusak moral dan akhlak kita.
    Kemudian sembari perbaiki diri kita juga lakukan budaya saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran karena sudah sifat kita manusia sering lupa.

    Oke Mas Galih semangat mari kita optimis masih ada titik terang buang tanah air kita tercinta ini

  26. Yessi Mulyani said,

    November 30, 2007 pada 9:50 pm

    maaf salah

    masih ada titik terang buat (bukan buang)……………

  27. Pyrrho said,

    November 30, 2007 pada 11:59 pm

    @ mbak Yeni :

    1. Sejak kapan masyarakat memusuhi kondom sehingga harus dikampekan segala. (jelas Jaka sembung naik ojek, Ngak jambung Je).

    Sejarah Keluarga Berencana [dgn alat-alat kontrasepsinya termasuk kondom] adalah sejarah yg juga berisi penolakan elemen-elemen masyarakat, khususnya kalangan agama, terhadap konsep ini. Itu kenyataan. Bahkan di agama Islam, Kristen, dan Katolik, masih banyak unsur-unsur pemeluk agama yg menolak KB dan juga pemakaian kondom.

    Kondom ditolak sebagai alat KB (jg dgn KB-nya), kondom juga ditolak dengan alasan melegalkan free-sex, kondom juga ditolak dgn alasan tidak efektif, dan lain sebagainya. Itu adalah bentuk lain dari pandangan negatif penduduk negeri ini terhadap kondom.

    Dan bagi saya, itu bisa dikategorikan “dimusuhi”.🙂

    2. Beresiko penularan AIDS iya tapi kan sudah jelas kalau akarnya adalah pelacuran dan seks bebas. Kalau kita terjauh dari perbuaatan itu mana mungkin hinggap itu penyakit (emang penyakit flu biasa, dapat menular lewat udara dan kapan saja).

    AIDS bukan hanya karena free-sex dan pelacuran. Pandangan itu melegalkan pendapat bahwa AIDS adalah penyakit kutukan Tuhan karena moralitas warganya. Sekali lagi, itu pandangan yg overgeneralisasi. AIDS juga bisa menular melalui pemakaian narkoba, transufi darah, transfer cairan tubuh dlm jumlah signifikan [terkena darah dari luka penderita AIDS], dan juga karena pemakaian alat-alat medis yang tidak steril (jarum suntik, pisau bedah, dll).

    Jadi jangan langsung dikaitkan bahwa jika seseorang terkena AIDS maka moralitasnya ketahuan.

    Kita perlu menggunakan semua cara dalam kampanye ANTI-AIDS. Yang kalangan agama bicara tentang moral dan akhlak, yang bekerja di lapangan (pekerja sosial) berbicara melalui penyuluhan (salah satunya lewat penggunaan kondom), dan yang lain mempunyai porsi masing-masing.

    Kalau hanya dengan kampanye Moralitas, Anti-Free Sex, anti sex usia dini, dan sekitar itu saja, AIDS tidak bisa dibasmi dr negeri ini. Kampanye pemakaian kondom tidak otomatis membuat kampanye anti free sex kehilangan maknanya. Kampanye kondom bukan berarti kampanye pro-maksiat. Itu kesimpulan yang terlalu jauh.

    Coba lihat ke jalanan, pada orang-orang yg rentan terkena AIDS, seperti PSK, supir truk sembako antar kota, anak jalanan, dan lain-lain. Efektif yang mana, kampanye moralitas/agama atau kampanye ABCDE spt yg dicanangkan pemerintah ? Realitas memang sering berkata lain.

    AIDS itu tujuannya, dan semua cara harus dikerahkan untuk mengatasinya.

    >yuhana: mbak yeni apa mbak yessi😀

  28. kurtubi said,

    Desember 1, 2007 pada 12:15 am

    Urusan “arus bawah” kayanya deras deh, bagaimanapun hatta agama yang berbicara untuk penganut arus bawah sulit. agama dalam pengertian umu (moralitas) itu pun maaf hanya diusung oleh orang-orang yang memang menjunjungnya.

    Karena itu kondom dalam hal ini sebenarnya menurut saya, adalah semata-mata untuk mengerem dampak yang luar biasa dari derasnya “arus bawah” itu. Memang tidak akan bisa mampu membendung tapi setidaknya, pencegahan ke bahaya nomor kesekianlah kondom itu berperan…

    Alih-alih untuk mencegah penularan HIV kondom hanya berperan melindungi yang belum tertular. sebab kalau yang sudah tertular itu obatnya belum ketemu…

  29. Desember 1, 2007 pada 12:19 am

    @pyrro
    setuju.

    AIDS juga bisa menular melalui pemakaian narkoba, transufi darah, transfer cairan tubuh dlm jumlah signifikan [terkena darah dari luka penderita AIDS], dan juga karena pemakaian alat-alat medis yang tidak steril (jarum suntik, pisau bedah, dll).

    penyebab AIDS bukan cuma freesex aja. banyak penyebabnya. makanya saya heran, kok yang digembar-gemborkan cuma yang hindari freesexnya aja..
    makanya saya lebih bengong lagi begitu dapet kabar kalo bakalan ada yang namanya pekan kondom nasional.. *deg*

  30. Agyl Ardi said,

    Desember 1, 2007 pada 1:57 am

    Sebelumnya salam kenal,

    Hmm… memang masih harus disamakan dulu pendapatnya, atau paling tidak saling memahami. Memang kalo di negara berbudaya free sex, pemakaian kondom tujuannya adalah cenderung untuk mencegah kehamilan dan mendukung budaya tersebut.

    Di Indonesia yang campur baur gini, ada benernya orang di atas mbak. Memang yang dituju adalah AIDS dan segala cara harus ditempuh untuk membendungnya, tapi saya sendiri tidak menyangkal adanya kecenderungan mendukung free sex ( walau pun bukan itu tujuannya ). Karena ya itu, seperti yang saya sebutkan diatas.

    Kita memang masih harus mengkaji banyak hal tentang ini🙂

    >yuhana: yups

  31. agustriyanto said,

    Desember 1, 2007 pada 12:42 pm

    Kadang2 konsep manusia memang sdh kebablasen. Perlu berfikir sejenak, mengungkap kata hati masing2. Mengapa tdk kembali ke khittoh sj? Qur’an+Hadist sebagai pedoman yg tak diragukan. Ingat bahwa Quran adl firmanNya, serukan kembali ke QS. Kalau manusia tidak bisa dinasehati dgn agama, kami kira perut bumi lebih baik dari punggungnya (mati itu lebih baik). Ya Alloh, muliakanlah akhlak penduduk negeri ini atau binasakan saja semuanya (I’m sad)

    >yuhana: semoga masih ada di negeri ini yang menyeru kebaikan, sehingga Allah masih sayang pada penduduk negeri ini, aamien

  32. nana said,

    Desember 1, 2007 pada 2:00 pm

    based on my experience ya mas agus, hehehee maaf niy, bukannya ga bisa dinasehati, sebenernya (secara teori) dah tau kok mana yg boleh mana yg nggak, cuma klo belum kena batunya ya suka agak2 lupa gitu d… ntar klo dah kena ato (sukur2) dikasi liat dari pengalaman orang laen deh.. baru bisa meresapi alasan2 kenapa ada yg boleh dan ga boleh.(Sigh) Moga aja kita manusia masih sempet bilang Tobat sebelum bener2 dimatiin semua (ngeri)

    peace yo.

  33. GRaK said,

    Desember 1, 2007 pada 6:48 pm

    sepakat bu nolak, kampanye itu, sama aja melegalkan maksiat!

  34. Joy said,

    Desember 1, 2007 pada 9:22 pm

    Setuju…
    Kondom itu emang cuma sarana, tapi saya setuju, sepakat, menolak kampanye pekan kondom nasional…konyol menurutku…
    kalo emang mau bantu cegah aids, jangan lewat produk ato barang dagangan. Pastinya kampanye ini dibantu oleh media cetak/elektronik. Yang saya khawatirkan adalah anak2/teenager yg lihat akan berpikir, selama pakai kondom mereka akan aman. Jangan hanya kampanye tentang pencegahan, krn org bisa berpikir, selama ada yg bisa nyembuhin, wajar2 aja seks bebas. Ada unsur penasaran untuk mencoba kondom. Akan lebih efektif kalo kampanye ttg bahaya aids (yg sampai saat ini belum ada ‘cure’nya). biar org pada serem, ngeri lihat ‘hasil’ aidsnya. Aku aja takut. Kalo mau kampanye kondom, ke daerah lokalisasi aja, pasti lebih efektif… Jia you ya mbak Yo…..

  35. dokterpenulis said,

    Desember 2, 2007 pada 2:50 am

    1. Kondom cukup efektif mencegah penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. Ini sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian dengan jumlah sample besar di dunia. Anda bisa ketik “condom HIV prevention” di highwire (sebuah search engine ilmiah yang populer) dan melihat berbagai study tentang efektifitas kondom.
    WHO, Central for Disease Control di Amerika, dan berbagai organisasi dunia masih meyakini tentang efektifitas kondom untuk pencegahan HIV. Bahasa ilmiah tidak boleh berkata berdasar asumsi. Ia harus berkata dengan fakta. Pernyataan seorang Presiden sekalipun bukanlah bukti ilmiah.

    2. Jika ada beberapa penelitian yang pro-kontra, maka lihatlah sample, metode penelitian, berbagai hal yang menunjukkan ‘kekuatan’ penelitian tersebut.
    Selanjutnya di http://dokterpenulis.wordpress.com

    >yuhana: selamat datang pak dokter, dokter yang paling banyak berkecimpung dengan pasien tentunya lebih mendalami masalah yang beginian🙂.
    Tapi bagaimanapun juga berbagai penelitian yang dilakukan pasti memiliki dasar yang kuat untuk sampai pada kesimpulan. Dari rekan-rekan yang berkomentar di blog ini saya jadi belajar banyak hal untuk melihat suatu masalah dari berbagai kacamata. btw, skr khan lagi berlangsung kampanye nasionalnya, semoga kekhawatiran saya akan bahaya yang lebih besar itu tidak terjadi aamien

  36. fikriana said,

    Desember 2, 2007 pada 10:58 am

    tambah kacau indonesia dengan adanya pembagian kondom gratis. Mari bersama tolak pembagian kondom gratis

  37. Pyrrho said,

    Desember 2, 2007 pada 8:41 pm

    @ Bu Yuhana :

    maaf… salah nama harusnya Yessi.🙂

    @ fikriana :

    betul, pembagian kondom gratis di pinggir-pinggir jalan itu nggak efektif. kondom lebih tepat disosialisasikan bagi mereka yg rentan terkena PMS dan bukan buat siapa yang lewat di pinggir jalan.🙂

    @ GraK :

    sepakat bu nolak, kampanye itu, sama aja melegalkan maksiat!

    satu lagi yang berpandangan kampanye kondom adalah kampanye maksiat🙂

    yang tidak berhubungan pun dapat dibuat berhubungan, asalkan otak kita memang menghendakinya.😐

  38. novy said,

    Desember 7, 2007 pada 11:26 pm

    Assalammualaikum, Yuhana.
    Boleh ketemuan ga di Taipe ? Kebetulan, aku baru tinggal di linkou.
    Aku sangat sependapat dengan mu mengenai program BKKBN ttg kampanye yg konyol itu tapi menggiurkan untuk pihak-pihak yg berkepentingan. Kita tahu bahwa penularan virus hiv/aids terbesar itu bukan melalui hubungan sex, tapi melalui drugs user. Bahkan, Kampanye pemakaian kondom di lingkungan lokalisasi yang sasarannya para wanita tuna susila (sorry aku ga setuju dengan istilah PSK, sex kok dikomersilkan? pekerjaan kok ngesex ? )pun tidak efektif. Aku beberapa kali baca tentang hasil survei efektifitas pengadaan ATM kondom dan tingkat partisipasi para WTS dalam pemakaian kondom, hasilnya adalah tidak efektif, menurut survei itu, para wts itu mengatakan, “jangankan beli kondom di mesin kondom, yang jelas gratis disediakan dan ada disamping ranjang aja, enggak bakalan di pakai”. Mana mau para lelaki hidung belang itu pakai kondom, yg jelas jelas mengurangi kenikmatan, apalagi kenikmatan itu tidak gratis. Mengapa WHO dan pemerintah/BKKBN begitu ngotot dengan kampanye pemakaian kondom dan pengadaan ATM kondom ? Mungkinkah ada kepentingan ekonomi dibalik itu semua ? Atau kepentingan yg lebih jahat lagi ? Siapa yg tahu harga satu unit vending machine kondom itu ? Untuk Nana, kamu engga lagi kampanye punggung terbuka kan ?

    >yuhana:
    wa’alaikum salam wr wb.
    Kalau mbak novy mau ketemu di taipei silahkan aja, insya allah saya setiap hari minggu ke mesjid kecil. Ketemu aja disana. Alamatnya No.3, Lane 25, Sec 1 Hsin-hai Rd. Taipei. Kalau naik MRT, ambil jalur hijau turun taipower building station exit 1.

  39. stokerfan said,

    Desember 27, 2007 pada 10:45 am

    Well, menurut pandangan saya sih begini, dengan menggunakan kondom, kita memberikan waktu tambahan. Waktu tambahan apa? Waktu tambahan untuk merubah perilaku atau bertobat, atau kalo istilah saya “buying time”. Mengingat perubahan perilaku beresiko atau moral itu membutuhkan waktu yang cukup lama, kondom adalah salah satu alat, yang sudah terbukti secara ilmiah, efektif untuk mencegah penularan infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.

    Kalau bicara soal dosa, siapa sih manusia yang tak berdosa? Ada yang suka bohong, korupsi, dan ada juga yang suka “jajan”. Dosa seksual saya rasa juga sudah ada hampir bersamaan sejak manusia diciptakan. Jadi untuk merubah dalam setahun-dua tahun, apalagi satu dekade juga susah. Selama menunggu perubahan moral yang memakan waktu cukup lama itu, sementara seks bebas terus berlanjut tanpa kondom, berapa banyak yang harus jadi korban dan terjangkit HIV/AIDS? Misalnya ODHA menikah, sudah terjangkit pun kalau berhubungan seksual juga tidak usah pakai kondom? Atau dia diingkari haknya untuk berhubungan seksual dengan pasangan sahnya karena HIV positif? Banyak sekali kegunaan kondom serta bukti ilmiah lain yang harus anda pertimbangkan, walaupun itu tidak sesuai dengan prinsip pribadi anda.

    Soal kampanye di umum, saya pikir kita tidak pernah tahu siapa saja yang suka “jajan”. Apakah anda tahu sekarang mulai banyak ibu rumah tangga serta anaknya yang terjangkit HIV? Mereka tidak tahu bahkan sampai suami mereka meninggal karena AIDS. Mereka ibu rumah tangga yang baik-baik, tidak selingkuh, tidak pernah “jajan”. Siapa yang sangka bapak-bapak yang alim pada pagi-siang hari, malamnya keluyuran cari “jajanan”? Mana mau para lelaki yang di lokalisasi untuk dikotbahi soal HIV/AIDS, wong mereka udah kebelet mau ngeseks dan secepat mungkin pergi dari tempat pelacuran biar gak ketahuan.
    Jadi, kalau kampanye di muka umum kan adalah suatu pemikiran yang logis untuk menjaring orang-orang yang berperilaku beresiko.

    Kalau saya, prinsip pribadi saya tidak mendukung seks bebas. Saya penganut abstinensia. Namun saya sadar tidak semua orang berprinsip seperti saya. Saya justru berharap abstinensia dan kampanye kondom bisa jalan bersama. Yang bisa abstinen, ya abstinen. Yang gak, ya pakailah kondom, sambil perbaikan moralnya. Selama manusia masih hidup, kesempatan bertobat kan masih ada. Kalau sudah kena HIV/AIDS, tidak sadar lalu mati, kesempatan bertobat ya hilang.
    Saya rasa ini bisa jadi pertimbangan.

  40. R!zaL said,

    Februari 6, 2008 pada 11:21 am

    Harusnya disitu di tulis cara menghindari sex bebas.key…………………………………………………………………………………………………………………………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  41. ivan ahda said,

    Mei 14, 2008 pada 10:20 pm

    salam kenal🙂
    ivan ahda

  42. Almujaddidi said,

    Juli 3, 2012 pada 7:31 pm

    Assalamu’alaikum
    afwan ukhti, mau tanya sumber referensi yg 19 hasil penelitian tsb, informasi ini sangat berguna bagi ane jika benar adanya.n_n
    Syukron jzk


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: